Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2015

Broken home, Haruskah ??


Berbicara mengenai perceraian, di dalam agama bukan sesuatu yang dilarang namun juga bukan sesuatu yang dianjurkan, tetapi lebih baik dihindarkan. Sejatinya yang menjadi korban dari perceraian adalah anak dan pihak keluarga dari masing-masing pihak, disini saya akan membahas mengenai akibat dari perceraian yang berdasarkan dari pengalaman seseorang.
Awalnya pernikahan ini baik-baik saja sampai akhirnya mereka di karuniakan satu orang anak yang berjenis kelamin laki-laki, anak itu terlahir dengan fisik yang sempurna, wajahnya tampan nan lucu, orangtua dan keluarganya sangat bahagia menyambut kehadirannya. 5 tahun berselang keluarga mereka kembali berbahagia karena istri beliau diberi kepercayaan untuk kembali mengandung buah cintanya, dari sinilah mulai permasalahan selama istri beliau mengandung anak kedua, segala perhatiannya hanya tercurah kepada janin yang di kandungnya, sedangkan anak pertamanyatidak mendapatkan perhatian sama sekali, ayah sibuk bekerja dan ibunya sibuk santai-santai dirumah bermanja dengan masa-masa kehamilan keduanya. Bulan demi bulan berlalu tak terasa waktu persalinan pun tiba, saat itu persalinan dilakukan dengan proses cessar dan Alhamdulillah baby yang lahir dengan selamat itu berjenis kelamin perempuan, baby baru sudah lahir segala perhatian tercurahkan untuk baby kedua mereka tersebut, dan nasib anak pertama mereka jadi terabaikan, anak bersusia 5 tahun main dari pagi sampai malam tidak dicariin, setiap pulang kerumah hanya diberi uang entah dia sudah makan atau belum ibunya seakan tak peduli dengan hal itu.
Hari semakin berlalu sampai tiba saatnya kelakuan “aneh” dari sangat anak pertama pun terlihat dari mulai ucapannya nya yang selalu berbicara “kotor”, gerak tubuhnya yang kadang suka membenturkan kepala sendiri ke tembok, kadang pula tangan setiap memegang benda seperti lemas dan tak bertenaga, akhirnya sang ayah pun memutuskan untuk membawanya ke ahli saraf, dari vonis dokter awalnya adalah hipper aktif , kemudian dikasih obat tapi bukannya tambah baik tetapi malah semakin parah kelakuannya, dan kembali diperiksa lagi tetapi vonisnya kali ini beda yaitu salah satu penyakit yang menyerang saraf tapi saya pribadi lupa nama penyakitnya apa, kata dokter anak itu sulit untuk disembuhkan dan mungkin tidak akan bisa sembuh seperti semula, obat yang diberikan hanya bersifat meringankan tidak menyembuhkan. Saat itu ayahnya sangat terpukul tetapi semakin dilihat tidak ada perubahan yang signifikan dari efek obat maka pemberian obat pun dihentikan, hal yang membuat saya miris adalaah saat orangtuanya sudah tau anak mereka memiliki “kebutuhan khusus” mereka malah seakan tidak mempedulikannya, bahkan secercah perhatian pun tidak dirasakan anak itu sama sekali.
Anak itu tumbuh dan berkembang tanpa adanya kasih sayang dari kedua orangtuanya, ayah dan ibunya hanya memperhatikan anaknya yang perempuan itu saja, sedih pasti hal itu terlihat saat anak itu begitu iri dengan adiknya yang setiap minta apa-apa selalu dituruti oleh kedua orangtuanya dan tanpa sadar terlalu sering ia melakukan hal-hal yang mengundang perhatian dari kedua orangtua nya. Waktu semakin berlalu kedua anak mereka pun sudah tumbuh besar, yang paling besar menginjak usia 11 tahun dan si kecil berusia 6 tahun, saat ini konflik-konflik mulai bermunculai dimulai dari sang istri yang selalu berpergian dan pulang malam, puncaknya di 1 tahun berikutnya tepatnya saat memasuki bulan ramadhan, sang ayah menitipkan anaknya yg kecil kerumah ibunya, ternyata saat ini konflik yang besar sedang terjadi dirumah tangga mereka, sang suami pun mengetahui kalau istrinya selingkuh dengan pria lain dan akhirnya ia pun memutuskan untuk menceraikan istrinya. Singkat cerita mereka akhirnya mereka bercerai dan saya pribadi fikir anak-anak mereka sangat mengalami guncangan yang besar di psikis nya tapi saat melihat anak-anaknya mereka tetap have fun danbermain dengan rasa yang penuh suka cita.
Sampai pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk berbicara empat mata dengan anak perempuan nya, saya memang tidak ada background sebagai psikolog tapi sedikit saya pernah belajar mengenai psikologi, obrolan saya dengan anaknya santai diselingi dengan canda tawa, dengan begitu saya ingin membuatnya nyaman untuk bercerita apapun yang ia rasain kepada saya. Ia bercerita kalau ia sebenarnya ingin orangtua nya hidup rukun, tidak ada pertengkaran dan perhatian sama kakak dan dirinya, dia juga mengatakan kalau dia ingin kakanya sembuh dari penyakitnya, dia ingin kalau ayahnya kerja kakaknya bisa menjaganya dirumah, bisa nganterin sekolah, bisa main sepeda berdua, bisa cerita-cerita bareng, ah saat mendengar ceritanya rasanya air mata ini ingin pecah tapi aku malu denganya di setiap kesedihan yang ia rasakan tetapi ia menceritakannya dengan senyum-senyum penuh bahagia mengungkapkan harpannya. Selain itu ia juga bercerita kalau ibunya suka menjelek-jelakan ayahnya di depan dirinya, padahal ibunya yang salah tapi malah menyalahkan ayah.
Dari sini kita belajar jika masih bisa diperbaiki lebih baik perceraian itu jangan dilakukan, jika kita tidak bisa bertahan untuk pasangan, cobalah bertahan untuk anak. Sekcil apapun luka yang tergores dihati sang anak itu tidak akan pernah hilang oleh waktu. Terkadang kita orang dewasa seakan buta dengan apa yang dirasakan oleh anak-anak, kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri tanpa ada sedikitpun rasa perhatian terhadap anak. Apalagi saat ini banyak ibu yang menjadi wanita karier, saat ibu bekerja anaknya dititipkan oleh neneknya atu bahkan pembantunya, miris sih mereka megatasnamakan kerja untuk anak tapi tugas mereka sebagai ibu dilakasanakan dengan baik. Kembali ke cerita lagi, saya juga pernah berbicara dengan anak yang ayah dan ibunya bekerja kantoran, anak itu berusia sekitar 5 tahun dan dia mengatakan “kak, suapin aku dong dan abis itu ajarin aku nulis ya” dan aku pun menjawab “kenapa mau disuapin? Belajar nulisnya nanti malem aja sama bunda” anak kecil itu oun berkata “aku kan gak pernah disuapin sama bunda, terus kalo pulang kerja bunda langsung bersih-bersih terus tidur gak ngajarin aku deh”, and then itu buat hati saya terenyuh sejatinya perhatian kecil yang kita beri kepada buah hati begitu sangat berharga untuk dirinya, mereka tidak butuh maianan, baju-baju bagus, sepatu mewah, tapi mereka hanya menginginkan perhatian dari kedua orang tuanya tertutama sang ibu.

Saat memutuskan untuk menikah sebagai seorang wanita dedikasikan diri kita untuk suami dan anak masalah karier lupakanlah, tugas kita adalah menjadi istri yang berbakti untuk suami dan madrasah pertama bagi anak-anak kita, biarlah tugas untuk mencari nafkah kita percayakan pada sang suami, memberi nafkah adalah kewajiban suami tetapi tidak lupa istri dan anak juga membutuhkan kasih sayang serta perhatian dari suami dan ayahnya. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita, menjadikan keluarga tujuan untuk mencapai surga dan mampu menangani stiap permasalahan yang ada di dalam kehidupan rumah tangga.

Minggu, 20 Desember 2015

Never Give up


Aku duduk didepan ruang tunngu sambil menunggu namaku dipanggil, setelah hampir 5 menit aku menunggu akhirnya suster pun memanggilnamaku, kemudian aku masuk ke dalam menemui dokter, “ selamat pagi dinda” sapaan hangat dari dokter, “pagi juga dok” jawabku, perlahan dokter membuka lembar hasil ronsenku kemarin dan menjelaskannya padaku “dinda, kamu jangan sedih ya, menurut hasil pemiraksaan melalui ronsen ini, di payudara kamu terdapat tumor sebesar 5cm” jelas dokter, “tumor dok ? lalu gimana, apa yang harus aku lakukan, dok? Ucapku dengan rasa shock dan bingung, “begini dinda, tumor yang bersarang di payudara kamu sudah cukup besar jadi ini harus dioperasi, jika tidak dioperasi saya khawatir ini akan tambah membesar, bagaimana kamu mau langsung ditindak lanjuti untuk operasi ?” ujar dokter , “untuk operasi nanti saya mau mempertimbangkannya dulu, kalau begitu terimakasih ya dok” jawabku dan kemudian aku langsung bangkit dari tempat duduk dan keluar dari ruang dokter, setelah itu aku langsung memutuskan untuk kembali pulang kerumah, sepanjang perjalanan aku memikirkan penyakitku dan operasi itu, aku bingung disisi lain aku ingin segera dioperasi agar tumor nini segera hilang tapi disisi lain aku tidak ada biaya untuk operasi, karena tidak mungkin kalau aku ceritakan ini ke ayahku dan memintanya untuk membantu biaya operasiku, sedangkan ayahku harus membiayai kebutuhan keluarga dan sekolah adik-adikku, aku juga tidak ingin membebani pikiran ayahku atas sakit yang ku derita ini. jujur aku teramat bingung, aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan, entah aku harus mengadu pada siapa dan entah apa yang harus aku perbuat untuk menghilangkan tumor ini.
Sesampainnya dirumah, hati dan fikiranku masih belum bisa tenang karena akupun belum tahu solusi atas masalahku ini, tetapi aku tidak boleh terlihat sedih didepan keluargaku aku tidak ingin mereka ikut meresakan beban serta kesedihan yang sedang ku rasakan. Aku langsung masuk kamar, mungkin dengan sedikit menyendiri dan maluapkan segala perasaan melalui tetesan air mata bisa sedikit melegakan perasaanku, tiba-tba pintu kamarku ada yang mengetuk dan terdengar suara “ teh, rena boleh masuk nteu?” akupun langsung menghapus air mataku dan menjawabnya “boleh atuh dek, sok atuh masuk”, “teteh kunaon atuh didalam kamar wae, geus makan ncan ? ucap adikku, “tenanaon, teteh mah kecapean jadi pengen istirahat dikamar dulu, teteh geus makan tadi pas diluar bareng temen teteh” jawabku kepada rena, “oh geus, yaudah atuh tetah istirahat aja,maafkeun udah ngaganggu”  ujar rena sambil beranjak meninggalkan kamarku, “iya tenananon, slow wae lah dek hehe” candaku ke rena. Syukurlah rena tidak menyadari kalau aku habis nangis, tak terasa waktu menujukkan pukul 18.00 dan adzan maghrib pun telah berkumandang, akupun segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah itu aku mengambil sajadah dan memakai mukena segera menunaikan sholat maghrib, selesai sholat melalui doa aku curahkan kepada sang pencipta atas segala beban yang ku rasakan, aku sadar saat aku bingung ingin mengadukan permasalahanku pada siapa, ada Allah yang menantiku untuk merintih kepadanya, jujur saat ini aku hopeless dan ingin menyusul ibuku ke surge, entah apa yang ada di fikiranku dalam doa ku berucap “Ya Allah… jika aku tidak bisa operasi tumorku ini, lebih baik kau cabut saja nyawaku daripada aku menyusahkan ayah serta adik-adiku, aku gak sanggup menahan beban ini sendiri dan aku gak sanggup jika harus melihat keluargaku merasakan kesedihanku ini”. selesai sholat aku keluar dari kamar dan bercengkrama dengan ayah serta adik-adiku, betapa bahagianya aku saat senyum terukir indah diwjah mereka, aku tidak bisa membanyangkan jika sakitku ini akan membuat senyum itu menjadi air mata penuh kesedihan.
Bulan demi bulan berlalu, tetapi fikiran akan tumor ini tidak akan pernah bernjak dari fikiranku, aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku, sebelum penyakitku ini tambah parah dan aku dikeluarkan dari pekerjaanku lebih baik aku yang mengundurkan diri, setelah resign dari pekerjaan aku , saat itu aku berfikir kalau aku harus bangkit dantidak boleh terus-terusan terpuruk dalam kesedihan, kalau pun unurku sudah tidak lama lagi, aku ingin disisa umurku ini menjadi ajang tebar manfaat ke sesama dan akhirnya aku memutuskan untuk mulai berbisnis, kemahiranku dalam membuat cake aku manfaatkan untuk membuka bisnis aneka cake dan Alhamdulillah bisnisku berjalan dengan lancar, selain itu aku juga menjadi resseler produk totebag, sedikit demi sedikit keuntungan dari hasil usaha aku tabung dan Alhamdulillah atas izin Allah tabunganku cukup untuk operasi, saat itu juga aku kembali kerumah sakit untuk check-up dan konsultasi dengan dokter untuk melakukan operasi. Waktu operasi itu tiba dan aku baru berani menceritakannya kepada keluargaku, tersirat kesedihan diwajah mereka tapi aku berusaha untuk menguatkan dan meminta doa dari mereka agar operasinya lancar. Aku mulai memasuki ruang operasi, saat itu aku dibius dan pas aku siuman aku sudah berada diruang perawatan, dan ayahku langsung berucap “Alhamdulillah kamu sudah siuman”, lalu aku bertanya kepada ayah “ ayah, bagaimana operasinya ? tumornya sudah diangkat kan ?, “Alhamdulillah sudah nak dan sekarang di payudaramu sudah tidak ada tumor lagi” jawab ayah, seraya mengembangkan senyum diwajahnya. Kurang lebih 3 hari aku dirawat intensif dirumah sakit, betapa bahagianya aku sakit yang selama ini membebani fikiranku sudah hilang, ayah dan adik-adikku pun turut berbahagia atas kesembuhanku dan sekarang aku bisa menjalani kehidupanku dengan bahagia tanpa ada beban yang menggelayuti.

Kehidupan itu up and down oleh karena itu melalui kehidupanlah aku belajar segala hal, saat putus asa menggelayuti adukan semua kepada sang pemilik hidup, beban dan masalah yang sedamg ku hadapi seakan sirna saat mendapat rangkualan dan kekuatan dari-Nya, aku memang pernah hampir menyerah tetapi Allah yang selalu menemaniku dan memberikan kekuatan serta kemudahan agar aku dapat melewati ujian-Nya, ujianini  adalah tanda cinta dari Allah untukku.

Rabu, 19 Agustus 2015

menikah ingin atau siap ??

akhir-akhir ini banyak sekali pembahasan mengenai pernikahan, yups nikah muda menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan saat ini. pernikahan merupakan hal yang tidak boleh untuk ditunda namun juga tidak dapat dilangsungkan secara tergesa-gesa, saat ini banyak sekali muda-mudi yangberlomba-lomba untuk menikah, itu memang bagus tetapi mereka ljupa bahwa pernikahan itu bukan hal yang dapat dipermainkan, banyak landasan-landasan yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menikah,

nikah itu butuh ilmu, nikah bukan perkara soal kesiapan mental ataupun materi saja tetapi hal utama untuk melangsungkan pernikahan adalah ilmu, tanpa ilmu agama yang kuat tujuan pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah itu tidak akan terwujud. disinilah pertanyaan itu muncul saat memutuskan menikah itu karena ingin atau memang sudah siap ????
jawabanya menurut saya kedua hal tersebut saling berhubungan dan memang harus sejalan dan seiiring, jika kita hanya ingin menikah tetapi belum siap pernikahan itu tidak akan mungkin terjadi, sebaliknya pun juga begitu jika sudah siap namun tidak ingin menikah ya semua tidak akan terjadi.
perkara siap gak siap itu tergantung dari diri kita sendiri, jiak sudah ada keinginan untuk menikah maka silahkan mulai untuk persiapkan diri.

untuk laki-laki persiapkan diri untuk memperdalam ilmu agamanya, rajin dalam beribadah, bertanggungjawab dan mampu untuk menafkahi keluarganya kelak.
sedangkan untuk wanita persiapkan diri mulai dari banyak belajar agama, belajar memasak, belajar membereskan rumah karena kelak ia akan menjadi seorang istri dan ibu bagi suami serta anak-anaknya kelak.
jodoh kita masih rahasia, tiada yang salah jika sambil menunggu ia datang, disini kita mempersiapkan diri terlebih dahulu agar kelak ketika ia sudah menjemput kita sudah siap dan ingin untuk membina hubungan rumah tangga bersamanya.

Minggu, 29 Maret 2015

Life is Learning

di kehidupan yang singkat ini harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, belajar sebanyak-banyaknya sebelum jatah kita hidup di dunia ini jatuh tempo. hidup adalah sebuah pembelajaran, dalam hidup kita belajar untuk mengasihi, menyanyangi, saling membantu, selain itu tugas kita selama masih diberi umur yang panjang adalah senantiasa beribadah kepada sang Pencipta. segala yang ada di dunia ini adalah milik Allah semata, kita sebagai umatNya harus mengikuti aturanNya yang telah ditetapkan di dalam Al-Qur'an dan Hadits, apapun yang terjadi pada kita sudah ditetapkan olehNya takdir kita ada ditangan Allah. satu hal yang pasti terjadi pada kita adalah KEMATIAN, mati itu pasti adanya entah kapan itu terjadi kita tidak pernah tahu, yang perlu kita persiapkan untuk menyambut datangnya kematian tersebut adalah memntipkan bekal sebanyak-banyaknya.

kapan, dimana, dan dengan cara seperti apa saat kita meninggal nanti ? tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya, siap maupun tidak siap saat waktunya telah tiba kita harus siap. entah sudah cukup atau tidak bekal yang selama ini kita kumpulkan malaikat maut akan datang untuk mengambil nyawa kita, jangan pernah berfikir kematian hanya datang kepada mereka yang sudah tua dan jangan pernah berfikir untuk terus melanggar perintahNya selama diberi kesempatan untuk hidup ini. manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah dan melakukan segala hal positif yang dapat bermanfaat untuk sesama karena setelah kita telah tiada siapa yang akan mendoakan kita, selain sanak saudara seiman yang menyanyangi kita. terlalu bodoh jika menganggap enteng KEMATIAN karena sesungguhnya melalui KEMATIANlah kita akan menuju sebuah kehidupan yang kekal untuk selamanya.

Sabtu, 03 Januari 2015

mama...

ibu... sosok yang aku kagumi, sosok yang aku sayang dan sosok yang aku jadikan sebagi panutan, sekarang ia telah berubah sifat dan sikapnya sangat berbeda dari yang dulu aku kenal.
entah apa dan siapa yang membuatnya berubah aku tak tahu, sekarang ia menjadi sosok yang emosional,hitung-hitungan, hanya mengejar duniawidan seakan tak peduli akan nasihat dari anak-anaknya. ia menjelma sebagai ibu yang keras kepala dan seakan apapun yang dikatakannya selalu benar, kami tidak ingin membencinya tetapi semakin hari sikapnya semakin menyebalkan. dia bukan lagi seorang ibu yang dulu ku kenal, seorang ibu yang lembut lagi penyanyang, aku berusaha untuk tidak membencinya tetapi kakak-kakakku teramat sebal dengan dirinya.
sikap ibuku yang seperti itu teramat membuatku tidak betah berada dirumah, aku pusing setiap hari mendengar amarah dia yang meledak-ledak, keluh kesahnya yang membuatku merasa jikalau aku adalah beban untuknya.

aku sadar aku bukan anak yang baik, tetapi untuknya aku berusaha untuk menjadi anak yang terbaik, anak yang dapat memakaikan mahkota kemuliaan untuknya di surga kelak. tetapi saat ini aku tidak bisa memberi apapun untuknya, terlebih lagi untuk memberinya "materi" aku belum sanggup yang ada aku meminta kepadanya, terkadang aku merasa lelah untuk belajar, aku ingin segera bekerja agar aku bisa membelikan segala sesuatu yang ibuku minta, aku tidak ingin menjadi beban lagi untuknya, aku tidak ingin ia masih bekerja di masa tuanya.

setiap kali melihat wajahnya aku rindu, aku rindu ibuku yang dulu, yang selalu sabar, peyayang,kuat,ikhlas dalam mengahadapi segala sesuatu, setiap sujudku selalu ku sebut namanya aku berharap Allah dapat melembutkan hatinya dan menjernihkan fikirannya agar ia kembali seperti ibu yang pertama kali aku lihat saat aku lahir di dunia ini.

Senin, 21 Juli 2014

The Angel without wing

malaikat tanpa sayap mungkin itulah suatu perumpamaan yang tepat untuk kedua orangtua kita, ya mereka memamng seperti layaknya malaikat yang baik terhadap anak-anaknya sekalipun anak-anaknya sering berbuat salah padanya namun mereka tetap menyanyangi anaknya dan selalu menjadi yang terbaik bagi anak-anak mereka. ditengah usianya yang telah renta orangtua masih tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, namun tidak sedikit seorang anak melupakan orangtua setelah mereka mencapai puncak kesuksesannya. tetapi tidak sedikit pun orangtua membenci anak-anaknya yang perlahan tidak memperdulikannya, orangtua mungkin sebesar apapun usaha kita untuk membahagiakannya taakan pernah bisa membalas jasa-jasa yang telah mereka berikan kepada kita, yang tak pernah kenal kata lelah dalam menjaga, merawat, serta mendidik kita dari masih didalam perut hingga saat ini yang sudah mulai beranjak dewasa. ya semoga kita tidak termasuk kedalam golongan anak yang lupa kepada orangtuanya setelah mencapai puncakkesuksesan kelak, terimakasih orangtua ku yang sudah memberikan kasih sayangmu selama ini maaf jika diri ini sering berbuat salah kepadamu dan maaf jika diri ini masih suka merepotkanmu. kasih sayangmu tidak akan pernah aku lupakan bahagiamu maka bahagiaku juga dan sedihmu adalah sedihku juga, semoga Allah mengizinkan aku untuk terus bisa berbakti dan membahagiakanmu :')

Ask Yourself ?

terkadang banyakyang mengetahui hakikat hijab yang sudah ditetapkan, namun tidak sedikit mereka yang mengetahui tidak dapat mengamalkan nya dan menganggap hijab itu suatu hal yang "disepelakan" yaitu saat ini memang banyak wanita muslim yang memakai hijab tetapi apa yang mereka pakai tidak sesuai dengan aturan yang sudah Allah tetapkan didalam Al-Qur'an yaitu dalam surat Al-Ahzab ayat : 59 dan surat An-Nur ayat : 31.  dari sekian banyaknya wanita muslim yang berhijab saat ini jauh lebih mengutamakan trend fashion saja dan menghiraukan syariat berhijab sebenarnya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang dengan mudah memakai dan melepas hijab sesuka hatinya tanpa menghiraukan penilaian Allah terhadap apa yang sudah dilakukannya tersebut. tidak sedikit pula para designer-designer hijab menjual pakaian hijab yang jauh dari kata syar'i meskipun saat di wawancara di tv mereka seakan mengerti aturan hijab sebenarnya namun tidak mereka terapkan dalam penjualan dari design baju muslimah mereka.
sadarlah kita hidup didunia ini tidak ada yang lain selain mentaati aturan Allah, jangan seenaknya mengabaikan perintah Allah dan bahkan tidak melaksanakan perintahnya sama sekali. hijab adalah pakaian kemuliaan untuk para muslimah jgn sampai hijab yang begitu mulia menjadi sumber fitnah bagi pemakainya, aturan hijab yang sesuai syariat sudah teramat jelas terdapat di Al-Qur'an lalu apakah kalian masih mau melanggar perintahNya ? hanya untuk menghiraukan penilaian manusia. sadarlah kita hdup di BumiNya, kita makan pun atas rezeki Nya apakah kita tidak malu jika melanggar perintahNya ? stop lah peduli akan penilaan manusia terhadap kita tapi mulai pedulilah penilaan Allah atas segala sesuatu yang kita lakukan. jika kita berpakain coba bercerminlah dan berkata "sudah Ridho kah Allah terhadap pakaian yang aku kenakan ?" ukhti fillah tidak akan salah jika kita dapat meninggalkan sesuatu hanya karena Allah, cobalah untuk taat kepadaNya dengan berhijab yang sesuai dengan aturanNya :D

Sabtu, 21 Juni 2014

I Miss You

kenapa ? pertanyaan itu yang selalu singgah dihatiku, ya satu pertanyaan kenapa kau pergi secepat ini ?
saat itu mungkin aku belum tahu apa-apa tapi saat itu aku sudah bisa merasakan sedih saat aku tahu kalau kau pergi untuk selamanya. ayah cukup kurang waktuku merasakan dekapan hangatmu dan bermanja-manja denganmu, kenapa kau pergi disaat aku mulai tumbuh menjadi seorang gadis remaja, saat itu aku iri dengan teman-temanku karena pada saat pengumuman kelulusan sekolah dasar mereka didampingi oleh kedua orangtua nya sedangkan aku datang sendiri ke sekolah tanpa di dampingi kedua orangtuaku karena ibuku sedang menjaga ayah dirumah sakit. betapa kecawa hatiku saat aku tahu kalau hasil kelulusanku tidak memungkinkan aku untuk masuk SMP negeri, namun hal tersebut tidak sebanding dengan rasa kecewa dan sedihku saat ku tahu kau telah tiada ayah, sungguh aku sangat rapuh dan sedih namun aku tetap berusaha untuk tegar dengan tidak meneteskan air mata di depan keluargaku.

ayah kau adalah malaikat untuk keluarga ini, kau juga sandaran hati untuk ibu, kau pula pencair suasana dalam keluarga ini, tanpamu kebahagiaan keluarga ini tidak akan lengkap. dan seraya itu pula aku berfikir jikalau kelak aku melangsungkan pernikahan tidak akan ada kau yang mendampingiku sebagai wali dan tidak bisa juga anak-anakku melihat kakeknya yang amat sangat baik lagi penyanyang.

ayah saat ini aku hanya ingin berusaha untuk menjadi seorang anak yang bisa menolongmu di akhirat kelak, ayah maafkan aku jikalau  aku belum bisa menjadi anak yang baik, aku janji akn terus berusaha untuk menjadi anak yang dapat dijadikan investasi duni-akhirat oleh kedua orangtuaku, ayah aku juga janji disini aku terus berusaha untuk menjaga ibu dan berbakti pula padanya. ayah percayalah suatu hari nanti kita akan berkumpul bersama di Jannah-Nya kelak, kau adalah lelaki yang dapat dijadikan panutan karena ditengah banyaknya kekurangmu kau terus berusaha untuk menafkahi keluarga ini dan memberikan hadiah untuk anak-anaknya walau hanya bekerja serabutan apapun engkau lakukan untuk membahagiakan keluarga ini. terimakasih ayah atas segala kasih sayangmu selama ini kepada kami anak-anakmu, I LOVE YOU MORE THAN EVERYTHING

Hijrah is my choice




Aku seorang remaja yang selalu ingin mencoba sesuatu hal baru dan mengikuti life style anak-anak remaja saat itu, Dari mulai gaya berbusana,makanan,dan bahkan sampai pacaran life style yang sedang digandrungi oleh para remaja. akupun mengikuti pergaulan mereka dari yang nongkrong bareng setelah pulang sekolah,berpakaian mengikuti mode,pacaran dan lain sebagainya. jaman-jaman nya masa sekolah aku jatuh cinta dengan lawan jenis atau ngetrendnya disebut dengan pacaran saat itu kalau kita punya pacar gak akan di judge sebagai “ jomblo ngenes” tapi aku bersyukur walaupun pacaran aku tidak pernah sampai melakukan hubungan diluar nikah, meskipun teman-temanku banyak yang seperti itu bahkan sampai membuahkan hasil atau lebih sering dikenal MBA.
Saat itu aku berfikir jika pacaran tidak sampai kelewat batas itu masih sah-sah aja dan masalah berpakaian selama itu gak terlalu “terbuka” masih biasa-biasa aja gak kehitung membuka aurat  tapi ternyata fikiran aku itu salah, suatu hari setelah aku duduk dibangku kuliah aku baca tweet dari ustadz felix mengenai pacaran dan hijab wanita sampai akhirnya aku kepo dan membeli bukunya beliau yang “udah putusin aja” dan “yuk berhijab”. Setelah baca buku tersebut aku langsung Jleb banget dan berkata “seberapa banyak dosa dari hasil maksiat yang salama ini aku lakukan?” tanpa fikir panjang aku mulai merubah penampilan ku dengan berjilbab tapi ternyata banyak ujian yang datang saat aku berjilbab dari mulai teman-teman yang mengejeku sampai pacarku yang tidak megizinkan aku berjilbab.  Allah membuka fikiranku dan aku memutuskan pacarku karena aku fikir kalo dia sayang tulus sama aku pasti akan mendukung aku untuk berbuat suatu kebaikan.
Hari demi hari terus berlalu dan akhirnya aku memutuskan untuk berjilbab syar’I dengan memakai jilbab panjang,gamis/rok,dan kaos kaki tentunya tanpa punuk unta. Awal aku memakai hijab syar’I sewaktu acara workshop dikampus, waktu itu teman-temanku memandangku dengan terheran-heran dan mereka mengejeku karena badanku yang kurus aku tak pantas memakai gamis serta kerudung panjang, mereka bilang aku seperti ibu-ibu dan badanku tidak membentuk jika pakai gamis, saat itu aku down banget tapi aku hanya bisa tersenyum didepan mereka walaupun hati aku sedih diejek seperti itu.
Tapi Allah selalu meguatkan aku agar aku tidak menyerah dalam menghadapi ujian ini, seiring berjalannya waktu pakaianku semakin syar’I mereka yang mencelaku perlahan-lahan mulai bosan sehingga tidak ada lagi celaan yang datang menghampiriku setiap aku datang ke kampus, sejak itu pula aku memutuskan untuk tidak pacaran sampai ada pria yang datang untuk meminagku istilahnya sih JOMBLO SAMPAI HALAL.  Hijrah adalah jalanku dan hijrah adalah pilihanku dengan meninggalkan sesuatu yang buruk untuk menuju suatu kebaikan yang akan membawaku lebih dekat dan lebih taat dengan penciptaku.

Created by : Tys